» » MUDIK SEPI, EKONOMI LESU: SINYAL PERUBAHAN DI LEBARAN 2025

 

Sumber Foto: Poskota

RISDEM, Bandung – Lebaran 2025 menghadirkan pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tradisi mudik yang selama ini menjadi momen sakral bagi para perantau justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan dari kondisi ekonomi yang sedang mengalami perlambatan.

Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik pada Lebaran 2025 diperkirakan hanya mencapai 146,48 juta orang. Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 24,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 193,6 juta orang. Dalam satu dekade terakhir, tren jumlah pemudik cenderung meningkat setiap tahunnya, kecuali saat terjadi pandemi. Oleh karena itu, penurunan tajam ini menjadi anomali yang perlu diperhatikan.

Dampak dari berkurangnya jumlah pemudik juga terlihat pada penggunaan berbagai moda transportasi. Data dari Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (Siasati) mencatat bahwa pergerakan penumpang dari lima moda transportasi utama hingga H-3 Lebaran hanya mencapai 6,75 juta orang, turun 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Moda transportasi yang mengalami penurunan paling signifikan adalah bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan penurunan sebesar 10,2 persen. Penurunan juga terjadi pada moda pesawat sebesar 6,8 persen dan kapal laut sebesar 4,8 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa mobilitas masyarakat mengalami perlambatan yang cukup signifikan.

Kondisi sepinya arus mudik juga tercermin dari laporan di berbagai titik keberangkatan. Di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, jumlah perjalanan bus berkurang. Seorang kondektur bus, Meru Saputra, menyatakan bahwa jumlah rit perjalanan yang bisa ia lakukan dalam sehari hanya dua kali, lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di sektor penerbangan, Bandar Udara Internasional Minangkabau mencatat bahwa jumlah penumpang yang datang dan berangkat pada periode H-9 hingga H-4 Lebaran hanya 53.851 orang, mengalami penurunan dari 57.698 orang pada periode yang sama tahun lalu. Kepala Departemen Manajemen Kinerja Bandara Minangkabau, Edwin Eka Putra, menyebut bahwa arus mudik tahun ini lebih tersebar merata, tetapi secara keseluruhan tetap mengalami penurunan.

Salah satu penyebab utama turunnya angka pemudik adalah kondisi ekonomi yang kurang menggairahkan. Data menunjukkan bahwa pada dua bulan pertama tahun 2025, Indonesia mengalami deflasi. Pada Januari, inflasi tercatat minus 0,76 persen, sedangkan Februari mencatat angka minus 0,48 persen. Deflasi ini menandakan lemahnya konsumsi masyarakat dan berkurangnya daya beli.

Indikator lain yang mencerminkan pelemahan ekonomi adalah penurunan drastis penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri. Pada Januari 2025, realisasi PPN hanya mencapai Rp 2,58 triliun, turun tajam dibandingkan Januari 2024 yang mencapai Rp 35,6 triliun. Penurunan ini mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi, termasuk belanja rumah tangga, mengalami penurunan signifikan.

Kondisi ini berdampak langsung pada keputusan banyak orang untuk menunda atau membatalkan rencana mudik. Karsito (54), seorang sopir taksi di Jakarta, mengaku tidak bisa mudik ke Banyumas karena keterbatasan dana. Senada dengan itu, Krisna (33) dari Depok menyebut bahwa biaya mudik ke Yogyakarta terlalu mahal, sehingga ia memutuskan untuk mengalokasikan dana Tunjangan Hari Raya (THR) untuk kebutuhan lain di tempat tinggalnya.

Berkurangnya jumlah pemudik membawa efek domino terhadap perputaran ekonomi di daerah tujuan mudik. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan nilai ekonomi yang beredar selama Lebaran 2025 mengalami penyusutan hingga Rp 137,97 triliun, atau turun sekitar 12,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika 46,5 juta orang tidak melakukan perjalanan mudik dan diasumsikan setiap pemudik biasanya menghabiskan antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta selama perjalanan, maka kontraksi ekonomi yang terjadi berkisar antara Rp 93 triliun hingga Rp 232 triliun. Sektor yang paling terdampak adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pedagang kaki lima, serta sektor informal yang biasanya mengalami lonjakan transaksi saat Lebaran.

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, berbagai program mudik gratis menjadi penyelamat bagi sebagian masyarakat. Program seperti Bantu Rakyat Mudik Gratis 2025 memungkinkan warga yang kurang mampu tetap bisa pulang kampung. Yasino dan Fitri, pasangan asal Kebumen, memanfaatkan program ini karena biaya perjalanan reguler bagi keluarga mereka bisa mencapai Rp 2 juta sekali jalan. Hal serupa dirasakan Elni (38), pemudik ke Palembang, yang mengaku tidak mampu menanggung biaya mudik sendiri jika tidak mendapat bantuan.

Di media sosial, tradisi mudik tetap menjadi topik hangat. Meski unggahan bernuansa kebahagiaan masih mendominasi, analisis dari Monash Data and Democracy Research Hub (MDDRH) Universitas Monash Indonesia menunjukkan bahwa ekspresi kesedihan dan ketakutan juga cukup tinggi. Dari 78.876 unggahan yang dianalisis, 24,23 persen mengungkapkan kesedihan, dengan banyak pengguna menyatakan bahwa mereka tidak bisa mudik karena kendala ekonomi.

Selain faktor ekonomi, warganet juga menyebutkan kendala lain seperti sulitnya mendapatkan cuti, beban kerja yang meningkat, serta cuaca ekstrem yang menghambat perjalanan.

Bagi sebagian pekerja, bonus hari raya menjadi penentu dalam keputusan untuk mudik. Ramli (43), seorang mitra pengemudi daring, akhirnya bisa mudik setelah menerima Bantuan Hari Raya (BHR) sebesar Rp 1,6 juta. Namun, Akbar Ibrahim yang hanya menerima Rp 50.000 memilih untuk tetap tinggal di perantauan karena tidak cukupnya dana untuk pulang kampung.

Fenomena mudik 2025 memberikan gambaran nyata mengenai kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini. Tradisi pulang kampung yang selama ini menjadi penanda ikatan emosional masyarakat dengan kampung halaman tak luput dari tekanan ekonomi. Tidak hanya suara deru kendaraan yang berkurang di jalanan, tetapi juga keluh kesah masyarakat yang harus berhemat di tengah situasi yang semakin sulit. Tahun ini, bagi banyak orang, mudik bukan lagi soal keinginan, tetapi soal kemampuan. (RSDM/ Ow)

«
Next
This is the most recent post.
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply