recent/hot-posts

PARADIGMA-PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN: KAJIAN ATAS POSTVISME, RASONALISME, EMPRSME, KRITISISME DAN KONTRUKTIVSME

RISDEM, Cianjur - Ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan paradigma-paradigma filosofis yang menjadi dasar dalam memperoleh dan memvalidasi pengetahuan. Artikel ini membahas lima paradigma utama dalam filsafat ilmu: Positivisme, Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, dan Konstruktivisme. Masing-masing paradigma memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan metodologis yang khas dalam menjawab pertanyaan tentang "bagaimana pengetahuan diperoleh". Dengan menelusuri pemikiran-pemikiran para tokoh utama, artikel ini bertujuan memberikan pemahaman komparatif serta relevansi paradigma tersebut dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan merupakan salah satu pilar utama yang menopang perkembangan peradaban manusia. Sejak awal perjalanannya, manusia senantiasa berupaya memahami realitas, menjelaskan fenomena, serta menemukan hukum-hukum yang mengatur alam semesta. Upaya tersebut tidak hanya berangkat dari rasa ingin tahu, tetapi juga dari kebutuhan praktis untuk bertahan hidup, menciptakan teknologi, serta membangun peradaban yang lebih maju. Dalam proses inilah, paradigma ilmu pengetahuan memainkan peran yang sangat penting sebagai landasan filosofis dan metodologis dalam mengarahkan cara berpikir, cara meneliti, serta cara menilai kebenaran.

Paradigma, dalam konteks filsafat ilmu, dapat dipahami sebagai kerangka dasar atau sudut pandang yang membimbing ilmuwan dalam memahami realitas dan menyusun teori. Paradigma tidak sekadar kumpulan konsep, melainkan mencerminkan orientasi ontologis, epistemologis, dan metodologis tertentu yang menentukan bagaimana pengetahuan dihasilkan. Oleh karena itu, memahami berbagai paradigma dalam ilmu pengetahuan menjadi penting untuk melihat bagaimana sejarah perkembangan ilmu terbentuk, sekaligus memahami kelebihan dan keterbatasannya.

Beberapa paradigma besar yang mewarnai sejarah ilmu pengetahuan antara lain adalah positivisme, rasionalisme, empirisme, kritisisme, dan konstruktivisme. Paradigma-paradigma ini tidak hanya hadir dalam ruang filsafat, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern, metodologi penelitian, serta praktik pendidikan dan kebijakan sosial.

Positivisme, misalnya, lahir sebagai respon terhadap spekulasi metafisik dan berusaha menegakkan ilmu pengetahuan pada pijakan empiris yang dapat diverifikasi. Paradigma ini menekankan pentingnya observasi, eksperimentasi, dan pengukuran yang objektif. Auguste Comte, sebagai tokoh utamanya, meyakini bahwa pengetahuan yang sahih hanyalah yang berasal dari pengalaman inderawi dan dapat dibuktikan secara empiris. Pemikiran ini telah memberikan sumbangan besar dalam menjadikan ilmu pengetahuan lebih sistematis dan terukur, khususnya dalam bidang sains alam. Namun, paradigma ini sering dikritik karena dianggap mengabaikan aspek-aspek non-empiris seperti nilai, moral, dan dimensi subjektif manusia.

Berbeda dengan itu, rasionalisme menekankan bahwa sumber utama pengetahuan terletak pada akal budi. Tokoh seperti René Descartes berargumen bahwa kebenaran dapat dicapai melalui deduksi logis dan refleksi rasional, bahkan tanpa harus selalu bergantung pada pengalaman inderawi. Paradigma ini mengajarkan bahwa pikiran manusia memiliki kemampuan bawaan untuk memahami kebenaran universal. Sumbangan rasionalisme sangat signifikan dalam melahirkan metodologi deduktif serta dalam membangun kerangka teoritis ilmu pengetahuan, meskipun sering dianggap terlalu mengandalkan akal tanpa mempertimbangkan keterbatasan pengalaman empiris.

Sementara itu, empirisme muncul sebagai penyeimbang yang menegaskan bahwa pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh melalui pengalaman. John Locke dan David Hume menekankan bahwa manusia pada dasarnya adalah “tabula rasa”, dan pengalamanlah yang kemudian membentuk pengetahuan. Paradigma ini sangat berpengaruh dalam melahirkan metode induktif yang menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan modern. Namun, keterbatasan empirisme juga tampak ketika ia tidak mampu sepenuhnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat konsep abstrak yang tidak selalu bisa diamati.

Kritisisme, yang dipelopori Immanuel Kant, hadir sebagai sintesis atas ketegangan antara rasionalisme dan empirisme. Kant berusaha menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya bergantung pada pengalaman empiris, tetapi juga pada struktur apriori dalam akal manusia. Dengan demikian, manusia bukan sekadar penerima pasif realitas, tetapi juga berperan aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui kategori-kategori berpikir. Paradigma kritisisme ini memberikan kontribusi besar dalam memahami hubungan antara subjek dan objek pengetahuan, serta membuka jalan bagi lahirnya filsafat kritis yang lebih reflektif.

Seiring perkembangan zaman, muncul paradigma konstruktivisme yang menawarkan pandangan baru terhadap pengetahuan. Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang bersifat absolut, melainkan hasil konstruksi sosial, budaya, dan pengalaman individu. Pengetahuan dipandang sebagai produk interaksi antara subjek dengan lingkungannya. Paradigma ini sangat berpengaruh dalam bidang pendidikan, ilmu sosial, dan bahkan penelitian kontemporer yang menekankan pentingnya perspektif plural, konteks sosial, dan subjektivitas manusia. Dengan demikian, konstruktivisme mencoba mengatasi keterbatasan paradigma sebelumnya yang terlalu menekankan pada objektivitas mutlak.

Melihat uraian di atas, jelas bahwa setiap paradigma ilmu pengetahuan memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing. Positivisme berhasil mengembangkan metode ilmiah yang objektif, rasionalisme memberikan kerangka logis, empirisme menekankan pentingnya pengalaman, kritisisme menyintesiskan keduanya, dan konstruktivisme menghadirkan dimensi sosial-kultural dalam memahami ilmu. Pemahaman atas dinamika paradigma ini menjadi penting bukan hanya bagi para filsuf ilmu, tetapi juga bagi praktisi akademik, peneliti, dan pendidik agar mampu menggunakan paradigma yang tepat sesuai konteks penelitian dan pengembangan keilmuan.

Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam paradigma-paradigma ilmu pengetahuan—positivisme, rasionalisme, empirisme, kritisisme, dan konstruktivisme—baik dari segi latar belakang historis, prinsip-prinsip dasar, maupun relevansinya dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan kontemporer. Kajian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang keragaman paradigma ilmu serta implikasinya terhadap perkembangan teori dan praktik dalam dunia akademik maupun kehidupan sosial.

METODE PENELITAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Pemilihan metode ini didasarkan pada sifat kajian yang bersifat filosofis, teoretis, dan konseptual, di mana objek utama penelitian adalah gagasan-gagasan para tokoh filsafat ilmu pengetahuan serta paradigma-paradigma yang berkembang dari masa ke masa. Oleh karena itu, penelitian ini tidak melibatkan pengumpulan data lapangan secara langsung, melainkan mengandalkan pada kajian literatur yang relevan dan otoritatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.      Positivisme

Istilah positivisme pertama kali digunakan oleh Saint Simon (sekitar tahun 1825 M.), jikalau kita melihat lebih lanjut, maka dapat kita katakan bahwa positivisme merupakan kelanjutan dari empirisme. Prinsip filosofik tentang positivisme pertama kali dikembangkan oleh seorang empiris Inggris yang bernama Francis Bacon (sekitar tahun 1600 M.). Pada abad ke-19 timbullah filsafat yang disebut Positivisme, yang diturunkan dari kata ―positif. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Oleh karena itu metafisika ditolak. Apa yang kita ketahui secara positif adalah segalah yang tampak, segala gejala. Demikian Positivisme membatasi filsafat dan ilmu pengetahuan kepada bidang gejala-gejala. Apa yang dapat kita lakukan ialah segala fakta, yang menyajikan kepada kita sebagai penampakan atau gejala, kita terima seperti apa adanya. Sesudah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hukum tertentu, akhirnya dengan berpangkal kepada hukum-hukum yang telah ditemukan tadi kita mencoba melihat ke masa depan, apa yang akan tampak sebagai gejala dan menyesuaikan diri dengannya. Arti segala ilmu pengetahuan ialah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan. Jadi kita hanya dapat menyatakan fakta-faktanya, dan menyelidiki hubungan-hubungannya yang satu dengan yang lain. Maka tiada gunanya untuk menanyakan kepada hakekat atau sebab-sebab yang sebenarnya dari gejalagejala itu. Yang harus diusahakan orang ialah menentukan syarat-syarat di mana menurut persamaannya dan urutannya. Hubungan yang tetap yang tampak dalam persamaan itu disebut ―pengertian, sedangkan hubungan-hubungan tetap yang tampak pada urutannya disebut hukum-hukum.

Filsafat positivisme diantarkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Ia belajar di sekolah politeknik di Paris, tetapi ia dikeluarkan kerena ia seorang pendukung republik, sedangkan sekolahnya justru sangat royalistis. Comte menjadi juru tulis pada de Saint Simon. Kebanyakan idenya memang berasal dari de Saint-Simon. Filsafat positivisme merupakan salah satu aliran filsafat modern yang lahir pada abad ke-19. Dasar-dasar filsafat ini dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte. Adapun yang menjadi tititk tolak dari pemikiran.

Epistemologi bermaksud secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya.

2.      Rasionalisme

Rasionalisme adalah faham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan dan menetes pengetahuan. Jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidah logis atau aturan-aturan logika. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran, adalah semata-mata dengan akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas dan kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Akal dapat bekerja dengan bantuan indera, tetapi akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan inderawi sama sekali, jadi, akal dapat menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.

Metode dalam rasionalisme

Agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, kita memerlukan metode yang baik, demikian pendapat Descartes (tokoh utama rasionalisme). Hal ini mengingat bahwa terjadinya kesimpangsiuran dan ketidak pastian dalam pemikiran filsafat disebabkan oleh karena tidak adanya suatu metode yang mapan, sebagai pangkal tolak yang sama bagi berdirinya suatu filsafat yang kokoh dan pasti. Ia sudah menemukan metode yang dicarinya, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya, atau keragu-raguan.16 Kemudian, ia menjelaskan, untuk mendapatkan hasil yang sahih dari metode yang hendak dicanangkannya, ia menjelaskan perlunya 4 hal, yaitu:

a) Tidak menerima sesuatu pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.

b) Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu atau sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada keraguan apapun yang mampu merobohkannya.

c) Bimbangkanlah pikiran dengan teratur, dangan mulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampaipada yang paling sulit dan kompleks.

d) Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbanganpertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita yakin tidak ada satu pun yang diabaikan dalam penjelajahan itu.

3.      Empirisme

Secara etimologis, kata-kata "empirisme" dan "pengalaman" berasal dari bahasa Inggris. Kata ini berasal dari kata Yunani έμπειρία (empeiria), yang berarti berpengalaman dalam, menjelajah dengan, atau terampil untuk. Pandangan filosofis yang dikenal sebagai empirisme menekankan pentingnya pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peran akal. “Empirisme” berasal dari kata Yunani empeiria, yang berarti coba-coba atau pengalaman. Filsuf empiris percaya bahwa pengalaman dan pengamatan di alam duniawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Pengetahuan bermula dari data dan fakta yang ditangkap oleh panca indera manusia. Fakta ini adalah sumber semua konsep yang benar. Oleh karena itu, semua pengetahuan manusia bersifat empiris. Adapun tokoh-tokoh empirisme yang memberi sumbangsih terhadap pengetahuan diantaranya, Francis Bacon de Verulam (1561-1626) ia menyumbangkan pemikirannya dengan melalui pengamtana, pemeriksaan percobaan pengaturan serta penyusunan terhadap ilmu pengetahuan. John Locke (1632-1704) ia menegaskan bahwa pengalaman ialah satu-satunya sumber pengenalan, serta menjelaskan tentang bagaimana manusia belum dibekali apapun jika tanpa pengalaman. George Berkeley (1685-1753) ia menjelaskan bahwa segala pengetahuan manusia didasarkan atas pengamatan. David Hume (1711-1776) dimana sumbangsihnya terhadap pengetahuan bahwa setiap dari perubahan pasti karena sesuatu, selain itu ia juga sangat kritis terhadap masalah pengenalan dan pengetahuan manusia. Empirisme, selain rasionalisme, sangat mempengaruhi pengetahuan. Teori empirisme juga mengatakan bahwa pengalaman sehari-hari adalah sumber ilmu pengetahuan. Dalam teori empirisme, tokoh-tokoh penting seperti John Locke, George Berkeley, dan David Hume berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, yang kemudian menjadi sumber utama pengetahuan. Mereka berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber utama pengetahuan dan bahwa setiap manusia mengalami perubahan. Dalam hal ini, empirisme menekankan bahwa pengetahuan bersifat a posteriori dan bergantung pada pengalaman empiris, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dunia fisik. Dalam ilmu pengetahuan alam dan sosial, empirisme mempunyai pengaruh yang signifikan karena kedua bidang ini bergantung pada apa yang diperoleh melalui eksperimen dan penyelidikan, dengan data yang jelas. Namun empirisme memberikan landasan untuk observasi, eksperimen, dan data empiris, yang keduanya digunakan dalam ilmu pengetahuan yang kongkrit . Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, kedua pendekatan ini sering berinteraksi satu sama lain. Rasionalisme sering membantu menjelaskan dan mengorganisasi data empiris, sedangkan empirisme selalu memberikan dasar untuk menguji dan memvalidasi teori rasionalis

4.      Kritisisme

Aliran ini dimulai di Inggris, kemudian Prancis dan selanjutnya menyebar ke seluruh Eropa, terutama di Jerman. Di Jerman pertentangan antara aliran rasionalisme dan empirisme terus berlanjut. Masing-masing berebut otonomi. Latar belakang munculnya kritisisme adalah karena paham rasionalisme dan empirisme masing-masing sama bagusnya, tetapi karena ada pertentangan di antara kedua paham tersebut, akhirnya Immanuel Kant mencoba untuk menjembataninya dengan memadukan kedua unsur tersebut menjadi suatu paham bernama kritisisme. Aliran filsafat yang dikenal dengan kritisisme adalah filsafat yang di introdusir oleh Immanuel Kant. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Pertentangan antara rasionalisme dan empirisme dicoba untuk diselesaikan oleh Kant dengan kritisismenya. Untuk itulah Kant menulis 3 buku yang berjudul: kritik der rainen vernuft (kritik atas rasio murni), kritik der urteilskraft (kritik atas dasar pertimbangan), dan kritik rasio praktis).

Ciri-ciri aliran filsafat kritisisme diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek bukan pada objek.

2. Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikiat sesuatu.

 3. Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Immanuel Kant mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan kritisisme.

 Adapun kelemahan aliran filsafat kritisisme antara lain:

- Manusia akan kehilangan makna, seni atau keindahan, sehingga manusia tidak dapat merasa bahagia dan kesenangan itu tidak ada. Karena dalam kritisisme semua hal itu dinaifkan.

- Hanya berhenti pada sesuatu yang nampak dan empiris sehingga tidak dapat menemukan pengetahuan yang valid.

- Orangnya radikal.

- Tergantung dari individu yang menerapkan akankah jadi serakah atau tidak

Sedangkan kelebihan aliran filsafat kritisisme antara lain:

- Kritisisme lahir dari paham empirisme dan rasionalisme, sehingga kadar dari paham ini jauh lebih tinggi daripada kedua paham tersebut. Kritisisme telah mampu mendorong lajunya kemajuan di sektor fisik dan teknologi.

 - Kritisisme sangat menekankan aspek rasional-ilmiah, baik pada epistemology ataupun keyakinan omtologik yang dipergunakan sebagai dasar pemikirannya.

5.      Kontruktivisme

Kontruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dar dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalu kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang di perlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.

Kontruktivisme berada di titik temu dua aliran besar dalam sejarah sosiologi. Sosiolog pengetahuan dan sosiologi sains, sosiologi pengetahuan dibentuk oleh pandangan tiga pemikr cemerlang. Marx, Mannhem dan Durkhem. Ketiganya menekankan peran yang saling memberi akibat dari factor-faktor sosial dalam membentuk kepercayaan individu. Marx terkenal karena menyatakan bahwa kelas sosial menentukan beragam sikap intelektual. Mereka bertiga mengecualikan kepercayaan yang di munculkan oleh matematika dan lmu alam dar analisis sosial mereka. Kepercayaan ilmiah mereka anggap dtentukan secara rasional dan bukan secara kausal, dan dengan demikian melampaui pengaruh sosial dan kultural.

KESIMPULAN

Kajian atas paradigma-paradigma ilmu pengetahuan menegaskan bahwa sejarah perkembangan epistemologi adalah sejarah dialektika antara akal, pengalaman, realitas empiris, kritik, dan konstruksi sosial. Positivisme, dengan penekanannya pada fakta, objektivitas, dan metode ilmiah yang ketat, telah berkontribusi besar terhadap lahirnya sains modern. Namun, kelebihan positivisme yang menekankan kepastian juga menyisakan kelemahan berupa kecenderungan reduksionis terhadap realitas yang sesungguhnya kompleks. Oleh sebab itu, paradigma ini tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu-satunya kerangka dalam memahami ilmu pengetahuan.

Rasionalisme hadir dengan menawarkan pandangan bahwa akal merupakan instrumen utama dalam memperoleh pengetahuan. Keunggulan paradigma ini adalah konsistensi logis dan kemampuannya dalam merumuskan prinsip-prinsip universal. Akan tetapi, ketergantungan yang terlalu besar pada akal tanpa menimbang konteks empiris menimbulkan kritik bahwa rasionalisme sering kali terlepas dari kenyataan objektif. Di sisi lain, empirisme yang menekankan pengalaman indrawi sebagai dasar pengetahuan memberikan keseimbangan, karena realitas hanya dapat dipahami melalui apa yang bisa diobservasi dan dialami. Walaupun demikian, empirisme juga menghadapi keterbatasan, sebab pengalaman manusia tidak selalu bersifat objektif dan bisa berbeda antara individu yang satu dengan yang lain.

Kritisisme berusaha menyintesiskan rasionalisme dan empirisme dengan menegaskan bahwa pengetahuan tidak semata-mata bersumber dari akal atau pengalaman, melainkan merupakan hasil dari interaksi keduanya. Paradigma ini menekankan fungsi kritis manusia dalam menyeleksi, menyaring, serta mengkaji ulang pengetahuan yang diperoleh agar tidak terjebak pada dogmatisme salah satu kutub. Dengan demikian, kritisisme menjadi jalan tengah yang lebih seimbang dalam memandang proses epistemologis. Namun, meskipun berusaha objektif, paradigma ini tetap tidak lepas dari kritik karena seringkali dianggap masih terlalu menekankan rasionalitas dalam batas tertentu.

Sementara itu, konstruktivisme memberikan arah baru dalam epistemologi dengan menggeser penekanan dari sekadar penemuan fakta menuju proses konstruksi makna. Pengetahuan dipahami sebagai hasil interaksi aktif antara subjek dan objek, serta dibentuk melalui faktor sosial, budaya, dan historis. Paradigma ini menekankan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang mutlak dan final, melainkan selalu kontekstual dan bergantung pada kerangka interpretasi. Kontribusi konstruktivisme sangat penting dalam dunia pendidikan dan ilmu sosial karena menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam proses pencarian pengetahuan. Walau begitu, paradigma ini juga memiliki kelemahan, terutama karena kecenderungannya yang dianggap dapat merelatifkan kebenaran.

Dari keseluruhan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu paradigma pun yang bersifat absolut dan mampu menjawab seluruh problematika epistemologi. Masing-masing paradigma memiliki kelebihan dan keterbatasan yang saling melengkapi. Oleh karena itu, penting adanya keterbukaan intelektual untuk mengintegrasikan berbagai paradigma agar tercapai pemahaman yang lebih komprehensif tentang ilmu pengetahuan. Integrasi ini akan memperkaya cara pandang dalam menjawab persoalan-persoalan yang terus berkembang, baik dalam ranah sains alam maupun ilmu sosial-humaniora.

Akhirnya, kajian paradigma ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa ilmu bersifat dinamis, tidak pernah final, dan senantiasa terbuka untuk ditafsirkan ulang. Paradigma bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan jembatan yang memungkinkan dialog antarpemikiran. Dengan memadukan kekuatan positivisme, rasionalisme, empirisme, kritisisme, dan konstruktivisme, manusia dapat membangun tradisi keilmuan yang lebih arif, kontekstual, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi pada pencarian kebenaran yang hakiki. 

DAFTAR PUSTAKA

Adri, A., & Hadi, S. (2018). Descartes, Spinoza, Berkeley: Menguak Tabir Pemikiran Filsafat Rasionalisme dan Empirisme. Anak Hebat Indonesia.

Anugrah, M. N., & Radiana, U. (2022). Filsafat Rasionalisme Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan. Jurnal Filsafat Indonesia, 5(3), 182–187.

Arsi, A., & Fail, W. O. N. (2021). Filsafat Rasionalisme.

Darsini, D., Fahrurrozi, F., & Cahyono, E. A. (2019). Pengetahuan; Artikel Review. Jurnal Keperawatan, 12(1), 13.

Fatchuroji, D. (2022). SUMBER ILMU PENGETAHUAN ISLAM DAN BARAT. Maslahah, 1(1), 53–64.

Fikri, M. (2018). Rasionalisme Descartes dan Implikasinya Terhadap Pemikiran Pembaharuan Islam Muhammad Abduh. TARBAWI: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(02), 128–144.

Habibah, S. (2017). Implikasi filsafat ilmu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dar El-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora, 4(1), 166 180.

Halik, A. (2013). Dialektika Filsafat Pendidikan Islam. Istiqra: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam, 1(1).

Hamdi, S., Muslimah, M., Musthofa, K., & Sardimi, S. (2021). Mengelaborasi Sejarah Filsafat Barat dan Sumbangsih Pemikiran Para Tokohnya. Jurnal Pemikiran Islam, 1(2), 151 166.

Https://Puspitarahayuari.Wordpress.Com/2014/12/13/Kumpulan-Artikel-Filsafat-Ilmu-2014/.


Note :  Segala bentuk tanggung jawab yang timbul dari tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.  Di tulis oleh: Noval Rizkyan Luthfi1, Randi Ardiansyah2, Suci Wahidiah3 Diajukan dalam memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu : Dr. Hj. Maspuroh, S. Ag., M. Pd.I.

Email : drmaspuroh@gmail.com

 

HAKIKAT FILSAFAT: PENGERTIAN, CABANG, FUNGSI

RISDEM, Cianjur - Filsafat merupakan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat ekstensial artinya sangat erat berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, dapat dikatakan filsafatlah yang menjadi motor penggerak kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif dalam bentuk suatu masyarakat atau bangsa. Filsafat ilmu merupakan refleksi secara filsafati akan hakikat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam menuju sasaran yang akan dicapai, yaitu kebenaran dan kenyataan. Memahami filsafat ilmu berarti memahami seluk-beluk ilmu pengetahuan sehingga segi-segi dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu, kemungkinan pengembangannya, serta keterjalinannya antar cabang ilmu yang satu dengan yang lainnya. Pendekatan penelitian yang peneliti gunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah jenis penelitian kepustakaan atau library research. Dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan sungguhsungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Ilmu merupakan metode berpikir secara obyektif dalam menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia fuktual dan berprinsip untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan

PENDAHULUAN 

Belajar filsafat memang bukan hal yang mudah namun di lain pihak dapat dikatakan bahwa setiap orang berfilsafat. Karena ia merefleksikan banyak hal. Dalam perbendaharaan ilmiah didapat seribu satu macam pengertian filsafat sebab hampir setiap manusia memiliki pengertian sendiri-sendiri. Salah satu alasan utama mengapa filsafat dianggap sulit adalah kompleksitas ide dan bahasa yang digunakan. Banyak pemikir filsafat terkadang menggunakan istilah dan konsep yang sulit dipahami oleh orang awam. Selain itu filsafat juga sering dituduh sebagai pengetahuan yang elit, karena digeluti oleh beberapa orang saja. Sehingga sering dianggap asing oleh masyarakat umum. Di sisi lain, orang juga sering tidak menyadari bahwa ia telah melakukan kegiatan berfilsafat. Hal ini dikarenakan manusia tidak meluangkan waktu untuk mempertanyakan kembali apa saja yang ia ketahui selama ini. Padahal kalau dicermati aktivitas berfilsafat merupakan bagian dari proses berpikir yang alami. Setiap individu memiliki pertanyaan dan keraguan dalam hidup. Dengan modal keraguan dalam pengetahuan yang dialami, hal tersebut menjadi modal utama manusia dalam berfilsafat. Pertanyaanpertanyaan seputar “ mengapa saya di sini?” atau “ apa arti kebahagiaan?” pertanyaanpertanyaan tersebut mencerminkan aktivitas filsafat. Hal ini juga mengindikasikan berfilsafat merupakan refleksi kritis terhadap pengalaman hidup sehari-hari. 

METODE PENELITIAN  

Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan, maka bahan yang dikumpulkan adalah berupa informasi atau data empirik yang bersumber dari buku-buku, jurnal, hasil laporan penelitian resmi maupun ilmiah dan literatur lain yang menduung tema penelitian ini. Studi kepustakaan juga dapat mempelajari beberbagai buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti .  

Menurut Abdul Rahman Sholeh, penelitian kepustakaan (library research) ialah penelitian yang menggunakan cara untuk mendapatkan data informasi dengan menempatkan fasilitas yang ada di perpus dan media sosial, seperti buku, majalah, dokumen, catatan kisah-kisah Sejarah, jurnal . Studi kepustakaan juga berarti teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Sedangkan menurut ahli lain studi kepustakaan merupakan kajian teoritis, referensi serta literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti. 

HASIL PENELITIAN   

a) Pengertian Filsafat 

      Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophia” dari kata “philos” artinya cinta dan “Sophia” artinya pengetahuan yang bijaksana. Kemunculan filsafat pada abad ke 5 SM merupakan pendobrakan terhadap zaman mitos pada masa itu. Terjadi revolusi pemikiran terhadap dominasi zaman mitos atas klaim kebenaran. Masa ini merupakan masa penting dimana akal mulai digunakan dalam upaya mencari kebenaran, akal sebagai sarana mencari kebenaran, akal sebagai sumber kebenaran. Sejarah pemikiran memasuki jaman baru yaitu  zaman Logos. Filsafat dikatakan sebagai mother of perkembangannya science. filsafat melahirkan cabang-cabang ilmu, yang berkembang menjadi ranting-ranting ilmu, sub-ranting ilmu. Dalam perkembangannya ilmu menjadi semakin spesifik dan teknis yang bergerak sendiri-sendiri yang tidak saling menyapa. Dalam perkembangannya banyak sekali permasalahan mendasar muncul yang menyebabkan ilmu semakin jauh dari hakekatnya. Para filsuf dan ahli filsafat itu mendefinisikan tentang filsafat sebagai berikut.:    

1). Pythagoras (572-497 SM). 

Dalam tradisi filsafat zaman yunani kuno Pythagoras adalah orang yang pertama-tama memperkenalkan istilah phylosophia, yang kemudian dikenal dengan istilah filsafat.Pythagoras memberikan definisi filsafat sebagai the love of wisdom.Menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksud dengan wisdom adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan.Pythagoras sendiri menganggap kebijakan yang sesungguhnya hanya dimiliki Tuhan semata-mata. 

2). Socrates (469-399 SM).Ia adalah seorang filosof dalam bidang moral yang terkemuka setelah Thales pada zaman Yunani Kuno. Socrates memahami bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principles of the just and happy life). 

3). Plato (427-347 SM). Seorang sahabat dan murid Socrates ini telah mengubah pengertian kearifan (sophia) yang semula berkaitan dengan soal-soal praktis dalam kehidupan menjadi pemahaman intelektual. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Dalam Republika, Plato menegaskan bahwa para filosof adalah pecinta pandangan tentang kebenaran (vision of the truth). Dalam pencarian terhadap kebenaran tersebut, filosof yang dapat menemukan dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan tak pernah berubah.Dalam konsepsi Plato, filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap keseluruhan kebenaran. Maka filsafat Plato kemudian dikenal dengan nama Filsafat spekulatif. 

4). Aristoteles (384-332 SM).Aristoteles adalah seorang murid Plato yang terkemuka.Dalam pandangannya, seringkali Aristoteles bersebrangan dengan pendapat gurunya, namun pada prinsipnya, Aristoteles mengembalikan paham-paham yang dikemukakan oleh gurunya tersebut. Berkenaan dengan pengertian filsafat, Aristoteles mengemukakan bahwa sophia (kearifan) merupakan kebajikan intelektual tertinggi. Sedangkan philosophia merupakan padanan kata dari episteme dalam arti suatu kumpulan teratur pengetahuan rasional mengenai sesuatu objek yang sesuai.Adapun pengertian filsafat menurut Aristoteles, adalah ilmupengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.  

5). Al-Kindi (801-873 M). ia adalah seorang filosof muslim pertama. Menurutnya filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosif dalam berteori adalah mencari kebenaran, maka dalam praktiknya pun harus menyesuaikan dengan kebenaran pula.. 

6). Al-Farabi (870-890 M) menurutnya filsafat adalah ilmu yang menyelididki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-maujuda). 

7). Cicerio (106—43 SM) Filsafat ialah induk dari segala ilmu pengetahuan, sesuatu yang diciptakan Tuhan.  

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat menurut kalangan filsuf sebagai berikut:  

a)     Pengetahuan yang berupaya menyajikan suatu pandangan sistematik dan integral tentang seluruh realitas.  

b)     Pengetahuan yang berupaya untuk menemukan hakikat realitas akhir dan mendasar secara nyata.   

c)      Pengetahuan yang berupaya untuk menentukan batasbatas danjangkauan pengetahuan sumber daya, hakikat, keabsahan dan nilainya.   

d)     Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.   

e)      Pengetahuan yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk menyatakan apa yang Anda lihat.  

Selain itu para ahli filsafat juga mendefinisikan filsafat dari titik tolak atau sudut pandangan yang berbeda sesuai dengan latar belakang dan merumuskan tentang filsafat secara berbedabeda. Setiap sudut pandangan yang digunakan para filsuf tidaklah bertentangan satu sama lain melainkan mereka saling melengkapi kepentingannya masing-masing. Dengan perbedaan latar belakang yang mereka miliki. Dan jika ditelaah pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat pada dasarnya adalah kegiataan berpikir yang sistematis, menyeluruh, logis, dan radikal. Kita akan bahas satu persatu tentang makna berpikir dalam konteks filsafat, sistematis, menyeluruh, logis, dan radikal. Berfikir radikal, berpikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung- tanggung, sampai kepada konsekuensinya yang terakhir. Berfikir sistematis ialah berfikir logis, yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggungjawab dan saling hubungan yang teratur. Berfikir universal atau menyeluruh tidak berfikir khusus, terbatas pada bagian-bagian tertentu, tapi mencakup. 

b) Cabang-cabang Filsafat 

  Filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan, sehingga ilmu-ilmu yang lain merupakan anak dari filsafat itu sendiri. Filsafat merupakan bidang studi yang memiliki cakupan yag sangat luas, sehingga diperlukan pembagian yang kecil lagi. Meskipun demikian dalam hal pembagian lapangan-lapangan atau cabang-cabang filsafat ini masing-masing tokoh memiliki metode yang berbeda dalam melakukan penghimpunan terhadap lapangan-lapangan pembicaraan kefilsafatan. 

Plato membagi lapangan filsafat ke dalam tiga macam yaitu: 

1). Dialektika, dialektika adalah cabang filsafat yang membicarakan persoalan ide-ide atau pengertian umum. 

2). Fisika, fisika merupakan cabang filsafat yang didalamnya mengandung atau membicarakan persoalan materi.  

3). Etika, etika adalah cabang filsafat yang di dalamnya mengandung atau membicarakan persoalan baik dan buruk. 

Adapun menurut aristoteles, pembagian filsafat dibagi kedalam empat cabang, yaitu: 

1). Logika, logika adalah ilmu pendahuluan bagi filsafat, atau ilmu yang mendasari dalam memahami filsafat. 

2). Filsafat teoritis atau filsafat nazariah, di dalamnya tercakup ilmu-ilmu lainyang sangat penting seperti ilmu fisika, ilmu matematika, dan ilmu metafisika. Bagi aristotelesilmu matematika inilah yang menjadi inti atau menjadi bagian yang paling utama dalam filsafat. 

3). Filsafat praktis atau filsafat alamiah, di dalamnya tercakup tiga macam ilmu yang tidak kalah pentingnya, yaitu ilmu etika yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam perorangan. Ilmu ekonomi yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam keluarga (rumah tangga). Ilmu politik, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam Negara. 

4). Filsafat poetika, merupakan filsafat kesenian, yakni filsafat yang membicarakan tentang keindahan, pengertian seni, penggolongan seni, nilai seni, aliran dalam seni, dan teori penciptaan dalam seni.    

c) Fungsi Filsafat dalam kehidupan 

a.  Filsafat sebagai Alat Berpikir Kritis. 

  Salah satu kontribusi utama filsafat adalah melatih kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini penting untuk menganalisis informasi, membedakan antara fakta dan opini, serta membuat keputusan yang rasional. Studi yang dilakukan oleh Facione (2011) menunjukkan bahwa pelatihan berpikir kritis yang berbasis filsafat dapat meningkatkan kemampuan analisis seseorang hingga 30% dalam kurun waktu enam bulan. Di era informasi seperti sekarang, di mana hoax berserakan di mana-mana dan informasi menyesatkan kian menjamur, kemampuan berpikir kritis yang berbasis filsafat sangat diperlukan demi terbebas dari hal tersebut. Oleh karenanya, dengan memahami konsep-konsep dasar logika dan argumentasi, seseorang dapat menilai validitas sebuah klaim dan menghindari manipulasi informasi. 

b.  Fungsi Filsafat dalam Etika dan Moralitas. 

 Filsafat juga membantu individu merenung-insyafi prinsip-prinsip moral. Misalnya, teoriteori etika seperti etika kebajikan memberikan bingkai kerja untuk menilai apakah tindakan tertentu benar atau salah. Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan etika sangat urgen dalam pengambilan keputusan, baik dalam konteks personal maupun kolektif.  Sebagai contoh, seorang santri mendapati sebuah dilema antara berbakti kepada orang tua di mana sedang sakit di rumah sementara ia mempunyai kewajiban di pondok pesantren untuk belajar dan mengabdi kepada kiainya. Dengan menggunakan pendekatan etika filosofis, santri tersebut dapat mempertimbangkan berbagai perspektif untuk mencapai keputusan yang adil dan objektif, di satu sisi ia tetap berbakti pada orang tua dan di sisi lain ia pun bisa mengabdi pada sang kiai. 

c.  Fungsi Filsafat dan Pemaknaan Hidup 

    Salah satu jasa filsafat yang paling penting adalah membantu individu menemukan makna dan tujuan hidup. Victor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning (2006) pada halaman 99-101, dia menekankan bahwa pencarian makna adalah kebutuhan fundamental manusia. Filsafat eksistensialisme, misalnya, mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menciptakan makna hidupnya sendiri melalui tindakan dan pilihan. Dalam praktiknya, refleksi filosofis dapat membantu seseorang menghadapi situasi sulit seperti kehilangan seseorang atau yang dianggap berharga, kegagalan dalam menghadapi persoalan, atau ketidakpastian dalam hidupnya. Dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan mendalam, seseorang dapat menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup dengan lebih optimis. 

   Kesimpulannya Filsafat tidak hanya sebuah disiplin akademik, tetapi juga alat praktis yang dapat membantu seorang manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik. Melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemahaman etika, dan pencarian makna hidup, filsafat dapat menjadi rambu-rambu dalam menghadapi “perjalanan” kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengapresiasi dan mempraktikkan filsafat dalam kehidupan mereka. Filsafat membantu kita memahami bahwa sesuatu tidak selalu tampak seperti apa adanya. Filsafat membantu kita mengerti tentang diri kita sendiri dan dunia kita. Karena filsafat mengajarkan bagaimana kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar karena filsafat membuat kita lebih kritis. Karena dari makna filsafat itu sendiri merupakan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab, asas, hukum dan sebagainya dari pada segala yang ada dalam alam semesta atau mengetahui kebenaran dan arti “adanya” sesuatu. Sehingga filsafat berperan bagi manusia yaitu sebagai pembebas pikiran manusia. Pembebasan disini membimbing manusia untukberpikir lebih jauh, lebih mendalam dan lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa mendapatkan kejelasan dan keterangan atas seluruh kenyataan sebagai suatu misal selalu berpikir konseptual. Jadi apa yang sudah direncanakan dan dipikirkan dengan matang serta memiliki konsep kedepannya misalnya ketika sudah memutuskan untuk kuliah disuatu jurusan. Karena dalam filsafat pendidikan memberikan pondasi tanggung jawab kepada calon-calon guru tentang hakekat setiap praktek pembelajaran di sekolah. Untuk itu kajian filsafat melatih mereka untuk memikirkan setiap apa yang harus dilakukan dan alasan-alasannya. Halnya meliputi mempelajari filsafat manusia adalah membutuhkan pemahaman manusia secara menyeluruh, sehingga memudahkan mengambil keputusan praktis atau menjalankan aktifitas sehari-hari dimana filsafat memiliki kontribusi yang besar terhadap peradaban manusia, karena filsafat dapat membantu manusia memahami dunia dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang hakekat kehidupan, kebenaran dan keadilan. Halnya filsafat diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada hakekatnya bersumber pada hakekat kodrat pribadi manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial sekaligus makhluk Tuhan.

KESIMPULAN  

1)     filsafat adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang adasecara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat tidak   mempersoalkan tentang   gejala-gejala atau fenomena,   tetapi mencarihakikat dari suatu gejala atau fenomena. 

2)     Cabang-cabang Filsafat menurut Plato terbagi menjadi 3 cabang yaitu: Dialektika, Fisika, Etika. Sedangkan menurut Aristoteles, Filsafat dibagi kedalam 4 cabang yaitu: Logika, Filsafat teoritis, Filsafat alamiah, Filsafat poetika 

3)     Manfaat   studi   filsafat   antara   lain: mandiri secara intelektual,   membebaskan manusia dari berfikir mistis, merasakan metodologi akan penelitian yang benar pada sebuah persoalan, menciptakan karakter manusia yang bertanggung jawab. 

SARAN

  Mengingat penelitian ini masih menggunakan metode survei cross-sectional, penelitian lanjutan diharapkan dapat menggunakan pendekatan longitudinal untuk mengamati stabilitas atau perubahan hasil temuan seiring berjalannya waktu, sehingga dapat memperkuat bukti kausalitas.        

DAFTAR PUSTAKA  

Sri Rahayu Wilujeng. FILSAFAT, ETIKADAN ILMU: Upaya Memahami Hakikat Ilmu dalam Konteks Keindonesiaan. UNDIP E-JOURNAL SYSTEM 5313-11601-1-SM  

Sudur, Ahmad Syukri, Badarussyamsi(2024). Filsafat Ilmu Dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Journal Genta Mulia Volume 15, Number 2 pp. 34-47 P-ISSN 23016671 E-ISSN: 2580-6416.  

Suranto (2024). Filsafat Sebagai Ilmu Kritis Dan Perannya Dalam Kehidupan Manusia Jawa Dwipa Jurnal Penelitian dan Penjaminan Mutu. Volume 5 Nomor 2 E-ISSN: 2723-3731.  

Aris Dwi Cahyono (2021). (Library research) Peranan Pengembangan Manajemen Kinerja Tenaga Administrasi Kesehatan Terhadap Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Puskesmas. Jurnal ilmiah pemenang, 2716-0483.  


Note :  Segala bentuk tanggung jawab yang timbul dari tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.  Di tulis oleh : Maspuroh1, Sahla Intan Nursabila2, Siti Selviani Saputri3, Risman MunandarIAI Al-Azhary, Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam