» » RUPIAH AMBRUK! ANCAMAN KRISIS 1998 KEMBALI DI DEPAN MATA?

 

Sumber Foto: CNN Indonesia

RISDEM, Bandung – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan hebat hingga mendekati titik kritis yang pernah terjadi pada krisis moneter 1998. Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda terperosok ke level terendah sejak pandemi Covid-19, mengancam stabilitas pasar keuangan dan kepercayaan investor. Jika tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin Indonesia kembali menghadapi badai ekonomi besar. 

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah ditutup di angka Rp 16.622 per dolar AS pada Selasa (25/3/2025). Angka ini merupakan level terburuk sepanjang 2025, dengan pelemahan mencapai 2,79 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Lebih mengkhawatirkan lagi, rupiah kini semakin dekat dengan titik kritis Rp 16.741 yang terjadi pada April 2020 dan hanya berjarak tipis dari rekor kelam krisis 1998. 

Kondisi ini menimbulkan ketakutan besar di pasar. Saat krisis moneter 1998, rupiah pernah terjun bebas hingga Rp 16.900 per dolar AS, bahkan menyentuh Rp 17.000 pada puncaknya. Apakah skenario serupa akan terulang? Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa situasi kali ini berbeda. Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Fitra Jusdiman, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia lebih kuat dibandingkan 1998, meskipun tekanan dari dalam dan luar negeri masih membayangi. 

Pelemahan rupiah kali ini bukan hanya dipicu faktor eksternal seperti kebijakan proteksionisme Presiden AS Donald Trump, ketidakpastian kebijakan Federal Reserve (The Fed), serta konflik geopolitik global. Faktor domestik turut memperburuk keadaan, termasuk meningkatnya permintaan dolar untuk pembayaran dividen korporasi, ketidakpastian kebijakan fiskal, serta spekulasi atas posisi pejabat kunci ekonomi dalam pemerintahan. 

Selain itu, goncangan besar juga terjadi di pasar saham Indonesia. Pada 18 Maret 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan perdagangan sementara (trading halt) karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 6 persen. Investor asing ramai-ramai menarik modalnya, dengan aksi jual yang mencapai Rp 22,21 triliun sepanjang bulan Maret. Akibatnya, IHSG terperosok ke level 6.011,84—terburuk sejak 2021. 

Pakar ekonomi Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas menilai bahwa situasi ini tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, reaksi teknis dari Bank Indonesia dan pemerintah belum cukup untuk meredam kepanikan pasar. Dibutuhkan strategi yang lebih jelas dan kredibel, terutama dalam menjawab keraguan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Tidak hanya itu, depresiasi rupiah kali ini dianggap anomali. Biasanya, saat indeks dolar AS (DXY) melemah, rupiah justru menguat. Namun, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya: DXY turun 6,11 persen sejak Januari 2025, tetapi rupiah tetap melemah. Apa yang sebenarnya terjadi? 

Ekonom senior Mohamad Fadhil Hasan dari Indef menyoroti faktor domestik yang semakin meresahkan. Sejumlah kebijakan kontroversial pemerintah, seperti pembentukan Danantara, Koperasi Merah Putih, dan program makan gratis, dianggap memperbesar ketidakpastian fiskal. Ditambah lagi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin menggerus kepercayaan publik terhadap ketahanan ekonomi nasional. 

Di sisi lain, defisit transaksi berjalan juga semakin melebar. Pada 2024, angka defisit melonjak hingga 8,85 miliar dolar AS atau setara 0,6 persen dari PDB, jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan bahwa defisit bisa mencapai 2 persen pada 2025, memperburuk tekanan terhadap rupiah. 

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi konkret, rupiah bisa semakin terpuruk dan menyeret Indonesia ke jurang krisis baru. Para pelaku pasar kini menanti langkah serius dari pemerintah dan Bank Indonesia. Intervensi semata tidak cukup, diperlukan kebijakan ekonomi yang transparan, kredibel, dan dapat memulihkan kepercayaan investor sebelum semuanya terlambat. (RSDM/ Ow)

Sumber Artikel: Kompas, 26 Maret 2025 dengan judul Rupiah Terpuruk hingga Mendekati Level Krisis 1998 Oleh Agustinus Yoga Primantoro

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply