» » LIMBAH MELIMPAH RUAH: LEBARAN PAKAI BAJU YANG ADA DI RUMAH

Sumber Foto: recyclopedia

RISDEM, Bandung – Banyak orang mengidentikkan Lebaran dengan pakaian baru, tetapi sebagian memilih untuk mengurangi konsumsi demi menjaga lingkungan. Limbah tekstil yang terus meningkat membuat mereka lebih bijak dalam berbelanja.

Bersalingsilang, sebuah komunitas dengan anggota lebih dari 7.000 orang, menginisiasi pertukaran pakaian bekas sebagai Upaya mengurangi perilaku konsumtif. Sejak didirikan pada tahun 2023, komunitas ini telah mengadakan 20 acara lebih di lima kota, dengan jumlah pakaian yang dipertukarkan mencapai ratusan ribu pakaian.

Founder Bersalingsilang, Cynthia S. Lestari, menyatakan bahwa bertukar pakaian adalah solusi mudah untuk meminimalisir limbah tekstil. Industri fashion sendiri menjadi penyumbang polusi terbesar ketiga di dunia setelah sektor energi dan pertanian.

Di Indonesia, limbah tekstil pada tahun 2019 mencapai 2,3 juta ton dan pada tahun 2030 diprediksi meningkat menjadi 3,5 juta ton. Sayangnya, yang dapat di daur ulang hanya sampai 300.000 ton, sedangkan selebihnya dibuang ke TPA atau dibakar.

Bersalingsilang juga berkolaborasi dengan sebuah komunitas yang mengkampanyekan gaya hidup minimalis yaitu Lyfe With Less. Tahun 2025, mereka mengusung gerakan Slow Ramadhan, yang mengkampanyekan kepada Masyarakat agar masyarakat mengenakan pakaian lama saat Lebaran daripada membeli yang baru.

Selain bertukar pakaian, opsi lain untuk mengurangi konsumtif sektor tekstil adalah memperbaiki pakaian lama. Studio Mulih, yang didirikan pada 2024, menyediakan layanan perbaikan pakaian. Meskipun biayanya bisa lebih tinggi dibanding membeli baru, beberapa orang tetap memilih memperbaiki pakaiannya ini karena nilai sentimental pada pakaian mereka.

Target pasar Studio Mulih adalah mereka yang menerapkan slow fashion, yaitu membeli pakaian dengan mempertimbangkan kebutuhan, bukan keinginan. Ini menjadi bagian dari perlawanan terhadap gaya hidup konsumtif yang berdampak negatif pada lingkungan.

Sementara itu, pakaian bekas yang tidak ditukar atau diperbaiki dapat disumbangkan atau didaur ulang. Jagatera.id, yang beroperasi di beberapa kota, mengelola pakaian bekas dengan memilahnya untuk didonasikan atau diolah kembali menjadi produk tekstil lain.

Pada 2024, Jagatera.id mengumpulkan 21,4 ton sampah tekstil. Dalam Ramadhan 2025, mereka menyalurkan 5.000 pakaian layak pakai kepada warga prasejahtera di berbagai wilayah di Jawa Timur.

Mengurangi limbah tekstil bisa dilakukan dengan berbagai upaya. Lebaran tidak harus selalu identik dengan baju baru, tetapi bisa menjadi momentum untuk lebih bijak dalam berbelanja dan menjaga lingkungan.

(RSDM/ Ow)

Sumber Artikel: Kompas, denghan judul Mengurangi Derita Bumi, Baju Lebaran Tak Harus Selalu Baru oleh Pandu Wiyoga. 20 Maret 2025


 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply