Sumber Foto: espos.id
RISDEM, Bandung – Saat ini, masyarakat
menghadapi tantangan keuangan akibat stagnasi kenaikan gaji yang tidak sejalan
dengan semakin meningkatnya biaya hidup. Untuk mengatasinya, mereka menjalankan
berbagai strategi diantaranta dengan mencari penghasilan tambahan, berhemat,
meminjam uang, atau menjual aset.
Survei
Kepemimpinan Nasional Kompas (4-10 Januari 2025) menunjukkan terdapat 60,8%
warga merasa tidak siap menghadapi kondisi ekonomi yang kian memburuk karena
tidak memiliki tabungan. Mayoritas mereka berasal dari kelas bawah dan menengah
bawah. Upaya utama yang dilakukan adalah mencari pekerjaan sampingan (22,4%)
dan berhemat (21,6%), diikuti dengan berharap bantuan pemerintah (12%), menjual
aset (2%), serta meminjam uang (0,04%).
Pertumbuhan
gaji yang stagnan selama 15 tahun terakhir menjadi factor terbesar terjadinya
kesulitan ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata
pertumbuhan gaji menurun dari 6,7% pada 2010 menjadi 2,8% pada 2024, dengan
delapan kali perlambatan dalam 15 tahun terakhir. Sejalan dengan itu,
pertumbuhan pengeluaran juga melambat dari 12,6% per tahun (2010-2014) menjadi
5,2% per tahun (2020-2024).
Daya
beli masyarakat melemah, terlihat dari meningkatnya proporsi pengeluaran untuk
makanan (dari 49,2% pada 2020 menjadi 50,1% pada 2024) serta menurunnya
pengeluaran untuk barang tahan lama dan jasa. Pajak dan asuransi justru
menyerap lebih banyak pengeluaran. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor
Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI)
menunjukkan penurunan penjualan mobil dan melambatnya pertumbuhan penjualan
sepeda motor, memperkuat indikasi lemahnya daya beli.
Momentum
konsumsi saat Ramadhan dan Lebaran juga melemah. Data Survei Konsumen Bank
Indonesia (2020-2024) menunjukkan proporsi belanja menjelang Lebaran semakin menurun.
Banyak warga mengurangi pengeluaran, misalnya mengurangi membeli baju baru atau
makan di luar. Hal ini juga tergambar dalam perlambatan pertumbuhan ritel, baik
untuk kelas menengah ke bawah (Indomaret, Alfamart) maupun kelas menengah ke
atas (Matahari, MAP).
Upaya
yang dilakukan pemerintah untuk menjaga daya beli diantaranya meningkatkan
pendapatan masyarakat melalui kenaikan upah di atas inflasi serta memberikan
subsidi, seperti diskon tiket pesawat dan tarif tol. Akan tetapu, jika langkah
ini kurang efektif, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko melambat. Dalam 10
tahun terakhir, kontribusi konsumsi rumah tangga dalam PDB terus menurun, dari
56,3% (2015) menjadi 54% (2024).
Target
pertumbuhan ekonomi pemerintah mencapai 5,3% pada 2025, lebih tinggi
dibandingkan 2024. Tapi, jika daya beli masyarakat tidak segera dipulihkan,
target ini akan cukup sulit untuk dicapai dan dapat memengaruhi kredibilitas
pemerintah di mata pelaku pasar. Kini, masyarakat sudah berjuang menghemat
pengeluaran, tetapi mampukah pemerintah mengambil kebijakan yang benar-benar
meringankan beban keuangan rakyat tanpa pandang bulu? (RSDM/ Ow)
Sumber Artikel: Kompas, denghan judul Keuangan Rakyat
Tak Siap Hadapi 2025, Pemerintah Bisa Apa?. 19 Maret 2025
No comments: