» » DUCK SYNDROME DI INDONESIA: MENJADI MAPAN ATAU SEKADAR BERTAHAN?

Sumber Foto: rri.co.id

RISDEM, Bandung – Altaf -nama samaran- (38) , seorang pria yang tengah menyantap sahur Bersama-sama keluarganya, tampak letih meski tetap berusaha tersenyum dihadapan putra putrinya. Dia duduk dengan secangkir kopi hitam yang perlahan mulai dingin tak tersentuh olehnya, sementara pikirannya berisik dengan berbagai kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan.

Di luar rumahnya di Kota Depok, setelah hujan mengguyur semalamam suntuk suasana subuh terasa dingin sekali. Garasi rumahnya melindungi satu unit mobil ramah lingkungan dan dua unit sepeda motor matik dari derasnya hujan. Dari luar, kehidupannya terlihat nyaman dan stabil.

Saat menunggu waktu imsak, terlintas di pikirannya momen buka puasa bersama teman-teman lama. Perbincangan yang berisi kesuksesan karier mereka membuat Altaf merenung. Dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lain, ia merasa kehidupannya jauh dari kata ‘sukses’, meski ia tetap berusaha tersenyum dan antusias.

Di permukaan, hidup Altaf tampak sudah cukup mapan. Ia mempunyai tempat tinggal dan kendaraan pribadi, serta anak-anaknyapun bersekolah di sekolah-seko,ah terbaik. Namun, di balik itu semua, ia harus bekerja dengan sangat keras memenuhi kewajiban cicilan rumah, kendaraan, dan biaya pendidikan anak-anaknya, yang sering membuatnya terjaga di tengah malam.

Ia bekerja untuk sebuah Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, dan hal tersebut tidak dapat menjamin stabilitas ekonomi. Kenaikan gaji yang diterimanya hanya sekadar menyesuaikan inflasi, sementara peluang promosi semakin sempit. Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) selalu membayang-bayangi, membuatnya semakin risau akan masa depan keluarganya.

Untuk menambah pemasukan, Altaf kerap membantu istrinya yang bekerja sebagai event organizer di akhir pekan. Ia juga terus mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi, meskipun belum ada peluang yang sesuai. Rutinitasnya terasa tiada henti, dan ia harus berusaha menjaga citra sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Sofia Ambarini, Ketua Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia menuturkan kondisi yang dialami Altaf mirip dengan ‘duck syndrome’, di mana seseorang tampak baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras agar tetap bertahan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan Universitas Stanford untuk menggambarkan mahasiswa yang terlihat sukses, padahal menghadapi tekanan besar.

Duck syndrome bukan jenis gangguan mental, tetapi dapat memicu stres berat yang berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Fenomena ini banyak dialami oleh Masyarakat kelas menengah Indonesia, yang pengeluarannya meningkat drastis dalam lima tahun terakhir tanpa diimbangi kenaikan upah serta pemasukan yang memadai.

Data menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran per kapita kelas menengah naik mencapai 142 persen sejak 2019, tetapi upah riil justru menurun. Di sektor manufaktur, misalnya, upah riil turun sebesar 13,7 persen, sementara di sektor perdagangan, hotel, dan restoran, penurunannya mencapai 17 persen.

Akibatnya, banyak keluarga kelas menengah mengandalkan utang untuk bertahan. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan peningkatan pinjaman di Pegadaian sebesar 25,83 persen dan pertumbuhan pinjaman daring (pinjol) sebesar 9,03 persen dalam setahun terakhir.

Fenomena ini mengakibatkan penyusutan jumlah kelas menengah hingga 9,48 juta orang dalam lima tahun terakhir. Hal ini ironis, mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5 persen, tetapi justru membuat masyarakat semakin kesulitan.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah harus berpihak pada kelas pekerja agar kesejahteraan mereka meningkat. Sementara itu, masyarakat kelas menengah harus lebih bijak dalam mengelola keuangan dan tidak terbebani tekanan untuk selalu terlihat sempurna. Yang terpenting, mereka hanya perlu berusaha agar hidup mereka lebih baik setiap harinya. (RSDM/ Ow)

Sumber Artikel: Kompas, denghan judul “Duck Syndrome” Dan Penyakit Warga Kelas Menengah Di Balik Kemapanan Yang Mereka Citrakan, Banyak Warga Kelas Menengah “Jungkir Balik” Untuk Memenuhi Kewajiban Membayar Cicilan Dan Tagihan Setiap Bulan. oleh Dimas Waraditya Nugraha. 13 Maret 2025


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply